M((Respons atas Gagasan M. Isa Ansori tentang Ekosistem Kebudayaan)
Surabaya – Liputan Warta Jatim, sejak awal bukan sekadar kota. Surabaya adalah simpul pertemuan, sebagai kota pelabuhan yang terbuka bagi arus manusia, gagasan, dan kebudayaan. Sejarahnya mencatat, jauh sebelum modernitas membentuk wajahnya hari ini, Surabaya telah memiliki fondasi kebudayaan yang kuat. Nama Pangeran Pekik putra Bupati Surabaya menjadi salah satu penanda, bukan hanya sebagai figur politik, tetapi juga sebagai pencipta wayang klitik dari kayu, simbol bahwa kota Surabaya pernah dibangun dengan kesadaran estetik yang hidup.
Memasuki era kolonial, denyut kebudayaan itu menemukan bentuknya melalui Jaarmarkt, pasar malam yang mempertemukan rakyat dengan kesenian. Pasar malam yang berubah menjadi Pekan Raya Surabaya kemudian bertransformasi menjadi Taman Hiburan Rakyat (THR), yang selama puluhan tahun menjadi pusat kehidupan seni rakyat: ludruk, ketoprak, wayang orang, hingga kelompok lawak legendaris seperti Srimulat. Di sana, seni tidak sekadar dipertontonkan, tetapi dihidupi.
Namun hari ini, sebagaimana disampaikan M. Isa Ansori, kita menghadapi kenyataan yang berbeda: ekosistem kebudayaan Surabaya perlahan kehilangan napasnya.
Panggung yang Menyempit
Surabaya pernah menjadi kota panggung. Balai Pemuda melahirkan nama-nama besar seperti Gombloh dan Leo Kristi. Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA) menjadi ruang tumbuh perupa muda. Sementara Taman Remaja Surabaya pernah menjadi laboratorium sosial bagi generasi muda, menjadi tempat di mana penyanyi dangdut, pop, hingga rock menemukan panggungnya.
Ruang terbuka kota pun hidup sebagai arena ekspresi kesenian tradisi seperti reog Ponorogo dan jaranan. Ekosistem itu bekerja secara alami: ada frekuensi, ada proses, ada ruang tumbuh.
Apa yang diingat oleh para seniman seperti dalam tulisa M Isa Ansori tentang kesempatan tampil lima hingga enam kali dalam setahun, bukan nostalgia kosong. Itu adalah tanda bahwa sebuah ekosistem pernah berjalan sehat.
Kini, ruang itu menyempit. Panggung menjadi langka. Kesempatan tampil menjadi terbatas. Dan ketika frekuensi hilang, kreativitas pun ikut tercekik.
Ketika Seni Direduksi Menjadi Administrasi
Masalah utama hari ini bukan sekadar berkurangnya ruang, tetapi perubahan cara pandang. Ruang seni budaya tidak lagi diposisikan sebagai wahana membangun manusia, melainkan sebagai objek administratif dan bahkan ekonomis.
Ukuran keberhasilan bergeser: dari kualitas proses menjadi besaran pendapatan daerah.
Di titik inilah kegagalan itu bermula.
Tidak adanya sistem kuratorial di ruang-ruang seni menunjukkan absennya arah. Padahal, kurator bukan sekadar penyeleksi karya, melainkan perancang ekosistem: menyusun visi, memilih karya, merancang agenda, dan menjembatani seniman dengan publik. Tanpa kurasi, ruang seni hanya menjadi gedung megah, tetapi tanpa ruh.
Ketiadaan berfungsinya Dewan Kesenian yang kuat sebagai mitra independen semakin memperparah keadaan. Pemerintah berjalan sendiri, kerap terjebak dalam logika birokrasi yang kaku, bahkan subjektif. Meritokrasi pun bergeser menjadi preferensi.
Jika kondisi ini dibiarkan, yang runtuh bukan hanya seniman, tetapi keseluruhan ekosistem kebudayaan kota.
Kota Pertemuan yang Terlupakan
Sebagai ibu kota Jawa Timur, Surabaya sejatinya memiliki keunggulan strategis: Surabaya adalah titik temu kebudayaan dari seluruh daerah. Keberadaan Taman Budaya Jawa Timur di kawasan bersejarah Surabaya Kanoman seharusnya menjadi pusat representasi kebudayaan Jawa Timur mulai dari budaya Arek, Osing, Samin, Madura hingga Mataraman. Namun potensi besar ini belum dikelola dalam kerangka ekosistem yang terintegrasi.
Menghidupkan, Bukan Sekadar Mengadakan
Solusi yang dibutuhkan bukan sekadar menambah program, tetapi membangun ulang ekosistem. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah menjadikan ruang seni sebagai museum hidup kebudayaan.
Pada pagi hingga sore hari, ruang seni difungsikan sebagai laboratorium pendidikan. Siswa tidak lagi hanya belajar seni dari buku, tetapi langsung berinteraksi dengan karya dan pelaku: menonton pameran, memahami ludruk, mengenal Srimulat, hingga belajar kesenian tradisi secara kontekstual.
Pada malam hari, ruang yang sama menjadi panggung pertunjukan berkualitas, terjadwal, dan terkurasi. Keluarga hadir sebagai penonton aktif. Seni kembali menjadi pengalaman bersama.
Dari sini, ekosistem akan tumbuh: pendidikan berjalan, seniman hidup, ekonomi bergerak, dan pariwisata terbentuk.
Disiplin sebagai Fondasi Peradaban
Namun menghidupkan ruang saja tidak cukup. Ruang seni harus menjadi sekolah kedisiplinan warga kota.
Melalui SOP yang tegas, mulai dari sistem antrean, pendaftaran, ketepatan waktu, hingga etika menjaga kebersihan, sehingga ruang seni dapat melatih perilaku kolektif. Warga belajar tertib, menghargai ruang bersama, dan memahami bahwa kebebasan selalu berdampingan dengan tanggung jawab.
Ini bukan hal kecil. Persoalan kota seperti banjir dan kemacetan berakar pada hal yang sama: ketidakdisiplinan.
Dengan demikian, ruang seni tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membentuk karakter warga.
Mengembalikan Fungsi Negara
Pemerintah perlu mengambil langkah strategis: membangun sistem kuratorial profesional, menghidupkan Dewan Kesenian, menyusun kalender budaya yang partisipatif, serta mengembalikan perannya sebagai fasilitator, bukan pengendali selera.
Karena seni tidak tumbuh dari anggaran semata, tetapi dari kebebasan yang difasilitasi dan keadilan yang dijaga.
Mengembalikan Jiwa Kota
Surabaya tidak kekurangan sejarah, tidak kekurangan ruang, dan tidak kekurangan seniman. Yang hilang adalah cara pandang.
Yang dibutuhkan hari ini bukan menciptakan sesuatu yang baru, melainkan menghidupkan kembali yang pernah ada, yaitu dengan kesadaran yang lebih matang.
Sebab kota yang besar bukan hanya kota yang megah infrastrukturnya, tetapi kota yang hidup jiwanya.
Dan kota tanpa jiwa, pada akhirnya, hanyalah ruang kosong yang bising.
Surabaya 17 April 2026
Heri Lentho





