Malang – Liputan Warta Jatim, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sangat mengapresiasi peran peternak ayam mandiri di Malang sebagai salah satu pilar penting
dalam keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas nasional
dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus menekan angka stunting dan malnutrisi.
Program MBG menempatkan protein hewani sebagai komponen penting dalam pemenuhan
gizi seimbang bagi anak. Sumber protein seperti daging, ikan, ayam, dan telur berperan
dalam pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta peningkatan daya tahan tubuh.
Dalam konteks ini, ayam dan telur menjadi pilihan strategis karena mudah diakses,
terjangkau, dan memiliki kandungan asam amino esensial yang lengkap.
Provinsi Jawa Timur selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi ayam dan telur
nasional. Data menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen pasokan telur nasional berasal dari
wilayah ini, dengan produksi telur ayam petelur mencapai lebih dari 2 juta ton pada 2025.
Distribusi dari Malang dan daerah sekitarnya menjangkau berbagai kota besar di Indonesia,
termasuk Jakarta dan Surabaya.
Menko Pangan menilai kekuatan peternak mandiri di Jawa Timur menjadi pondasi penting
rantai pasok pangan nasional. Struktur usaha yang didominasi skala kecil dan menengah
berbasis keluarga memungkinkan distribusi manfaat ekonomi langsung ke masyarakat lokal
sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dalam kunjungannya ke CV Telur Intan di Malang, Menko Pangan menegaskan bahwa
program MBG membuka peluang pasar baru yang stabil bagi peternak. “Program MBG
membuka pasar baru yang stabil bagi peternak. Koperasi dapat menjadi agregator distribusi
ayam dan telur ke SPPG. Program ini sekaligus memperkuat posisi peternak sebagai aktor
penting dalam ketahanan pangan,” ujar Zulkifli Hasan.
Perwakilan asosiasi peternak menyampaikan bahwa tantangan utama yang masih dihadapi
antara lain tingginya harga pakan, fluktuasi harga komoditas, serta kebutuhan peningkatan
teknologi produksi seperti smart farming dan biosecurity guna menjaga kualitas hasil ternak.
Dukungan kebijakan, penguatan kelembagaan koperasi, serta kolaborasi lintas sektor dinilai
penting untuk meningkatkan daya saing peternak mandiri.
Menutup kunjungan, Menko Pangan menegaskan bahwa keberhasilan program MBG
Program MBG menempatkan protein hewani sebagai komponen penting dalam pemenuhan gizi seimbang bagi anak. Sumber protein seperti daging, ikan, ayam, dan telur berperan dalam pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta peningkatan daya tahan tubuh.
Dalam konteks ini, ayam dan telur menjadi pilihan strategis karena mudah diakses, terjangkau, dan memiliki kandungan asam amino esensial yang lengkap.
Provinsi Jawa Timur selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi ayam dan telur
nasional.
Data menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen pasokan telur nasional berasal dari
wilayah ini, dengan produksi telur ayam petelur mencapai lebih dari 2 juta ton pada 2025.
Distribusi dari Malang dan daerah sekitarnya menjangkau berbagai kota besar di Indonesia,
termasuk Jakarta dan Surabaya.
Menko Pangan menilai kekuatan peternak mandiri di Jawa Timur menjadi pondasi penting
rantai pasok pangan nasional. Struktur usaha yang didominasi skala kecil dan menengah
berbasis keluarga memungkinkan distribusi manfaat ekonomi langsung ke masyarakat lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dalam kunjungannya ke CV Telur Intan di Malang, Menko Pangan menegaskan bahwa
program MBG membuka peluang pasar baru yang stabil bagi peternak.
“Program MBG
membuka pasar baru yang stabil bagi peternak. Koperasi dapat menjadi agregator distribusi
ayam dan telur ke SPPG. Program ini sekaligus memperkuat posisi peternak sebagai aktor
penting dalam ketahanan pangan,” ujar Zulkifli Hasan.
Perwakilan asosiasi peternak menyampaikan bahwa tantangan utama yang masih dihadapi
antara lain tingginya harga pakan, fluktuasi harga komoditas, serta kebutuhan peningkatan
teknologi produksi seperti smart farming dan biosecurity guna menjaga kualitas hasil ternak.
Dukungan kebijakan, penguatan kelembagaan koperasi, serta kolaborasi lintas sektor dinilai
penting untuk meningkatkan daya saing peternak mandiri.
Menutup kunjungan, Menko Pangan menegaskan bahwa keberhasilan program MBG sangat bergantung pada integrasi peternak lokal dalam rantai pasok pangan nasional.
Pemerintah akan terus mendorong penguatan ekosistem produksi dan distribusi agar manfaat program dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Red





