CILACAP – Liputan Warta Jatim, Guyuran hujan deras yang membasahi wilayah Kecamatan Adipala tidak menghalangi kekhidmatan dan kemeriahan acara Tasyakuran Memetri Bumi di Desa Karangbenda, Jumat (01/05/2026) malam. Ribuan warga tetap setia memadati area Balai Desa untuk mengikuti rangkaian ritual syukur dan menyaksikan pagelaran budaya.

Meski genangan air terlihat di beberapa titik jalan dan halaman, rangkaian acara inti tetap berjalan sesuai jadwal. Di dalam aula, para tokoh masyarakat dan perangkat desa melaksanakan doa bersama dengan khusyuk. Di luar, tenda-tenda besar yang disiapkan panitia menjadi tempat bernaung warga yang tetap antusias menanti pertunjukan dimulai.
Pantulan cahaya lampu pada permukaan aspal yang basah justru menambah kesan estetik di sekitar lokasi kegiatan, menciptakan atmosfer yang hangat di tengah dinginnya cuaca malam itu.
Suara dentuman gamelan dan merdu alunan sinden terbukti menjadi magnet yang kuat bagi masyarakat. Penonton tampak duduk rapat di bawah perlindungan tenda, bahkan sebagian rela berdiri dengan payung di pinggir jalan demi menyaksikan aksi dalang di atas panggung.
Kesenian Wayang Kulit yang menjadi suguhan utama dalam Memetri Bumi tahun ini seolah menghangatkan suasana. Para pengrawit yang mengenakan seragam merah menyala tampil penuh semangat, memberikan penampilan terbaik bagi warga yang tetap bertahan meski cuaca kurang bersahabat.
Salah seorang warga yang hadir menyampaikan bahwa hujan justru dianggap sebagai berkah tambahan dalam ritual Memetri Bumi kali ini.
“Hujan deras ini adalah bagian dari alam. Justru karena ini acara syukur bumi, air yang turun melimpah adalah tanda kemakmuran. Jadi, mau hujan sederas apa pun, kami tetap datang,” ungkapnya.
Pemerintah Desa Karangbenda mengapresiasi ketertiban dan antusiasme warga yang luar biasa. Hingga berita ini diturunkan, acara terpantau berjalan aman, lancar, dan penuh kebersamaan, membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya lokal jauh lebih kuat daripada kendala cuaca.
Bowo





