Pengorbanan Sebagai Ibadah dan Persaudaraan: Potret Kurban Idul Adha di Desa Banjar’asri RT 12

SIDOARJO — LiputanWarta Jatim, Di bawah langit yang cerah dan suasana yang sarat makna spiritual, Desa Banjar’asri, khususnya lingkungan Rukun Tetangga (RT) 12, tampak bergairah menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Hari yang agung ini, yang dikenal pula sebagai ‘Eid al-Adha atau Hari Raya Kurban, bukan sekadar perayaan, melainkan momen suci pengulangan sejarah kesetiaan nabi, serta manifestasi nyata dari nilai-nilai pengorbanan, kepatuhan, dan kepedulian sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Di halaman terbuka warga RT 12, tampak tersusun rapat dan terawat hewan-hewan ternak pilihan yang telah disiapkan dengan penuh ketelitian dan keikhlasan. Tiga ekor sapi berbadan besar, gagah, dan berpostur prima menjadi pusat perhatian. Dengan daging yang padat, bulu yang berkilau sehat, dan postur tubuh yang tegap, hewan-hewan ini merupakan hasil pemilihan terbaik, mencerminkan kesungguhan para warga dalam menunaikan salah satu perintah agama yang mulia. Di samping kehadiran sapi-sapi agung tersebut, terlihat pula sepasang ekor kambing, yang meski berukuran lebih kecil, membawa makna yang sama luhur dan setara dalam pandangan ibadah. Dua kambing ini berdiri tenang, melengkapi jumlah hewan kurban tahun ini, menjadi bukti bahwa nilai ibadah kurban tidak diukur dari besar kecilnya fisik, melainkan dari besarnya ketulusan dan keikhlasan hati pemberinya.

Baca Juga :  Gotong Royong Dalam Melaksanakan Qurban Idul Adha 10 Dzuldhijah 1447 / 2026

Suasana di lokasi dipenuhi kedamaian sekaligus semangat kebersamaan. Warga, baik tua maupun muda, pria maupun wanita, hadir berkumpul dengan hati yang gembira namun penuh khidmat. Mereka saling menyapa, bertegur sapa, dan bekerja bahu-membahu, menghapus jarak sekat sosial yang ada, meleburkan diri dalam satu ikatan persaudaraan islamiyah. Di sini, tergambar jelas filosofi Idul Adha: persatuan. Hewan-hewan kurban tersebut bukan sekadar binatang ternak, melainkan simbol persembahan diri, simbol kerelaan berbagi rezeki, serta jembatan yang menghubungkan si kaya dan si miskin, yang mampu dan yang membutuhkan, dalam satu meja persamaan hak dan kemanusiaan.

Prosesi penyembelihan dilakukan sesuai syariat agama dan kaidah kesejahteraan hewan, dilanjutkan dengan pembagian daging yang dilakukan secara tertib dan adil. Setiap potongan daging yang terbagi bukan sekadar makanan, melainkan pembawa berkah, pembawa kasih sayang, serta pembawa pesan bahwa rezeki yang kita miliki adalah titipan Tuhan yang wajib disyukuri dan dibagikan. Daging-daging tersebut akan berpindah tangan ke rumah-rumah warga, hingga sampai ke tangan mereka yang kurang beruntung, membawa kebahagiaan dan rasa syukur di setiap sudut rumah di Desa Banjar’asri.

Baca Juga :  RT 02 RW 02 Lingkungan Krajan Gelar Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Jami' Baitussalam

Kegiatan kurban di RT 12 Desa Banjar’asri tahun ini menjadi saksi hidup bahwa tradisi agung ini tetap lestari, kuat, dan hidup di tengah masyarakat. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan napas kehidupan spiritual dan perekat kohesi sosial yang kokoh. Melalui penyembelihan hewan kurban—baik tiga sapi yang gagah maupun sepasang kambing yang setia—warga kembali belajar makna sejati dari kehidupan: memberi tanpa mengharap balas, berbagi tanpa rasa kurang, dan berkorban demi ridha Ilahi serta kebahagiaan sesama.(Asmaul)

Artikel yang Direkomendasikan