BESUT JOGO REGOL
Oleh Tokoh Ludruk Besutan Meimura
Surabaya – Pagi besok, Tanggal 2 Mei 2026, mulai pukul sembilan, pintu bukan lagi sekadar akses keluar-masuk. Ia berubah menjadi batas: antara ingatan dan lupa, antara yang dirawat dan yang disingkirkan. Di ambang itulah seorang Besut berdiri—bukan sebagai tokoh masa lalu, tetapi sebagai kesadaran yang belum selesai.
“Besut Jogo Regol” bukan sekadar aksi teatrikal. Ia adalah pembacaan ulang atas sebuah situasi: ketika surat-surat datang berulang, namun makna yang hendak dikosongkan justru tak pernah benar-benar bisa dipindahkan. Regol—pintu itu—menjadi simbol terakhir dari sesuatu yang lebih besar dari tembok: harga diri ruang, sejarah yang menetap, dan kebudayaan yang menolak dianggap sementara.
Dengan Bambu runcing di tangan—alat yang dalam sejarah pernah menjadi perpanjangan keberanian rakyat kecil—Besut hari ini tidak sedang melawan siapa-siapa. Ia hanya berjaga. Menjaga kemungkinan agar ingatan tidak diperlakukan seperti barang inventaris. Menjaga agar gamelan tetap beresonansi sebagai suara, bukan sekadar benda. Menjaga agar lukisan tetap menjadi tafsir zaman, bukan objek yang bisa dipindahkan tanpa cerita.
Ada ironi yang sengaja dibiarkan berdiri: dahulu, ruang seperti ini direbut dengan tekad dan risiko; hari ini, ia bisa saja dikosongkan dengan prosedur dan tanda tangan. Maka Besut hadir di celah itu—di antara keberanian masa lalu dan kebijakan masa kini—sebagai pengingat yang mungkin terasa jenaka, tapi tak sepenuhnya bisa ditertawakan.
Jika aparat adalah cermin dari perintah, maka Besut adalah cermin dari ingatan. Ia tidak menghalangi, tidak menyerang, hanya berdiri. Tapi justru dalam diamnya, ia mengajukan satu pertanyaan yang tak mudah ditertibkan:
“apa yang sebenarnya sedang kita jaga, dan apa yang diam-diam sedang kita kosongkan?”
Meimura 1 Mei 2026
Tulisan ini merupakan respon dari tokoh ludruk besutan meimura, saat muncul surat pada tanggal 29 april 2026 tentang perintah pengosongan salah satu ruang di komplek balai pemuda Surabaya.





