Surabaya – Liputan Warta Jatim Rangkaian kegiatan yang sarat nilai kasih sayang, keseimbangan alam, dan warisan budaya digelar berurutan mulai sore hari Sabtu hingga pagi hari Senin, dipimpin langsung oleh Kanjeng Billy dan diikuti rombongan pelestari budaya dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Kediri.
Kegiatan pembuka dilaksanakan pada Minggu sore pukul 16.00 WIB, tepat di kawasan Kali Tempur, Alas Ketonggo, Dusun Brendil Provinsi, Hutan, Babadan, Kec. Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Di tepian sungai yang asri ini, Kanjeng Billy memimpin langsung prosesi pelepasan makhluk hidup sebagai wujud syukur dan upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Ribuan ekor ikan dilepaskan kembali ke aliran sungai agar berkembang biak dengan bebas. Sebagai bagian tata cara tradisi yang utuh, turut pula dilepaskan: 3 ekor ayam cemani, 3 ekor ayam kampung, 1 ekor burung hutan, serta puluhan ekor burung perkutut. Semua makhluk itu dikembalikan ke lingkungan yang sesuai, dengan harapan membawa berkah serta menjaga kelestarian kehidupan di alam ciptaan Tuhan.

Setelah persiapan selesai, pada hari Minggu pukul 11.00 WIB, rombongan berangkat bergerak dari Surabaya menggunakan bus pariwisata menuju lokasi yang sama di Alas Ketonggo untuk melanjutkan rangkaian inti.
Ketika malam tiba dan bulan bersinar purnama sempurna, suasana semakin khidmat. Pukul 00.00 WIB tengah malam, dimulailah prosesi Ruwat Sengkolo dan Mandi Malam Purnama di Kali Tempur. Dipimpin Kanjeng Billy dengan tata cara yang benar, serta diiringi lantunan doa oleh Romo Suku Tengger, kegiatan ini berlangsung penuh penghayatan hingga selesai sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Maknanya mendalam: menyucikan diri, lingkungan, serta membuang segala hal yang dianggap kurang baik demi masa depan yang lebih seimbang.

Belum surut semangat kebersamaan, rombongan segera melanjutkan perjalanan menuju lokasi kedua: Gua Surowiti, Canggu, Kecamatan Badas kabupaten Kediri. Di tempat yang tenang dan menyimpan kenangan leluhur ini, peserta duduk berkumpul, berdoa, dan merenung menyambut pergantian malam ke pagi, hingga kegiatan berakhir aman saat pukul 05.00 WIB.
Memasuki pukul 07.00 WIB, langkah kembali dilanjutkan menuju titik penutup rangkaian acara, yaitu Joglo Dharma Nusantara, Pare, Kabupaten Kediri. Sesampainya di sana sekitar pukul 08.30 WIB, dilaksanakan prosesi pemasangan payung kehormatan sebagai simbol perlindungan budaya yang berdiri tegak. Di sinilah seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan dinyatakan selesai sepenuhnya dalam keadaan tertib dan penuh rasa syukur.
Dengan hati yang tenang dan pikiran yang damai setelah menempuh perjalanan dari siang, melintasi malam purnama hingga pagi di tiga wilayah berbeda, rombongan kembali naik ke bus pariwisata untuk pulang menuju Kota Surabaya. Perjalanan panjang yang sarat makna ini pun ditutup dengan selamat saat seluruh peserta turun di titik yang telah ditetapkan: kawasan Bicopis Surabaya.
Seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan lancar dan aman. Para peserta pulang membawa pengalaman batin yang mendalam, kebahagiaan kebersamaan, serta keyakinan bahwa menjaga alam dan merawat warisan budaya adalah tanggung jawab bersama yang harus terus diteruskan
(Redaksi : Liputan Warta Jatim)






