Hangatnya Idul Fitri di Sulut, Silaturahmi Jadi Jembatan Harmoni dan Kepedulian Sosial

Manado- Liputan Warta Jatim, Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di Sulawesi Utara kembali menghadirkan suasana penuh kehangatan, tidak hanya sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang mempererat kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk, Sabtu (21/03/2026).

Di tengah nuansa saling memaafkan, silaturahmi antara jajaran Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) yang dipimpin Stefi Sumampouw bersama Wakil Ketua Meyvo Rumengan, serta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulut di bawah pimpinan Johnny Alexander Suak, menjadi potret nyata kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat.

Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan wujud kepedulian sosial yang tumbuh dari hati menyapa, berbagi, dan mempererat hubungan yang selama ini menjadi fondasi kuat kehidupan bermasyarakat di Sulawesi Utara.

Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, terus menekankan pentingnya menjaga harmoni dan kondusivitas daerah. Dalam pandangannya, Idul Fitri adalah momentum untuk kembali merajut persaudaraan, menyingkirkan sekat perbedaan, dan memperkuat rasa saling percaya di tengah masyarakat.

Baca Juga :  LPK-RI Resmi Gugat PT Econext Ventures Indonesia, Desak Pengembalian Dana Korban Investasi Ilegal

“Silaturahmi bukan hanya tradisi, tetapi kekuatan sosial yang mampu menyatukan perbedaan,” menjadi semangat yang terus digaungkan dalam berbagai kesempatan.

Lebih jauh, kolaborasi antara FKDM dan Kesbangpol dipandang sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas sosial.

Dengan pendekatan yang humanis, FKDM hadir langsung di tengah masyarakat, mendengar dan memahami dinamika yang berkembang, sementara Kesbangpol memastikan setiap kebijakan tetap berpijak pada kepentingan bersama.

Di era digital yang penuh tantangan, kebersamaan seperti ini menjadi semakin penting. Silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan personal, tetapi juga menjadi benteng terhadap penyebaran hoaks, provokasi, dan potensi konflik sosial.

Nuansa Idul Fitri yang sarat dengan nilai saling memaafkan pun memberikan pesan mendalam tentang pentingnya rekonsiliasi. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirawat dalam semangat persaudaraan.

Baca Juga :  Gubernur Sulut Hadiri Pembukaan Rakerda PKK, Dekranasda, dan TP Posyandu Serta Bimtek Duta Stunting Tahun 2025

Melalui momentum ini, harapan besar terus digaungkan agar Sulawesi Utara tetap menjadi daerah yang damai, rukun, dan penuh toleransi. Dengan kebersamaan yang terjaga, masyarakat tidak hanya merayakan kemenangan spiritual, tetapi juga memperkuat komitmen untuk saling menjaga dan melindungi satu sama lain.

Idul Fitri di Bumi Nyiur Melambai pun kembali membuktikan bahwa kekuatan terbesar sebuah daerah bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi pada hati masyarakatnya yang tetap hangat, terbuka, dan saling merangkul.

Winsy.W

Artikel yang Direkomendasikan