Surabaya – Liputan Warta Jatim, Proyektil Nyasar Pasmar 2 menjadi perhatian publik, di mana hasil investigasi menunjukkan sudut tembak sangat kecil sudah dapat melampaui pagar pengaman, ditambah potensi rekoset peluru, namun respons cepat memastikan korban hanya mengalami luka ringan.
Peristiwa proyektil nyasar dari lapangan tembak Pasmar 2 menjadi pengingat penting bahwa dalam setiap latihan militer, aspek teknis sekecil apa pun tetap memiliki konsekuensi besar. Namun di sisi lain, kejadian ini juga memperlihatkan bahwa respons cepat di lapangan mampu meminimalisir dampak yang lebih fatal.
Data investigasi menunjukkan bahwa dengan jarak garis tembak ke pagar pengaman sejauh 1.600 meter dan tinggi tembok 8 meter, hanya dibutuhkan sudut elevasi sekitar 1,29 derajat agar proyektil dapat melampaui pagar tersebut.
Sudut ini sangat kecil, sehingga dalam praktik di lapangan, deviasi ringan akibat hentakan senjata atau pergerakan tangan penembak bisa menyebabkan arah proyektil sedikit berubah. Dalam kondisi tertentu, perubahan kecil ini sudah cukup membuat peluru keluar dari zona yang direncanakan.
Fakta bahwa jarak korban mencapai sekitar 2.300 meter dari garis tembak menunjukkan bahwa proyektil masih memiliki energi untuk melanjutkan lintasan cukup jauh. Namun yang patut dicatat, dua korban dalam kejadian ini tidak mengalami luka fatal. Satu korban mengalami luka pada bagian tangan, sementara korban lainnya mengalami luka di bagian pinggul, dan keduanya telah mendapatkan penanganan.
Selain lintasan langsung, terdapat satu faktor penting yang sering luput dari perhatian awam, yaitu rekoset (pantulan peluru). Rekoset terjadi ketika proyektil mengenai permukaan keras seperti batu, beton, atau logam, lalu memantul dengan arah baru yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Dalam kondisi sudut tertentu, peluru tidak berhenti, tetapi justru berubah arah dengan energi sisa yang masih cukup berbahaya.

Fenomena ini sangat mungkin terjadi di area latihan terbuka, terutama jika terdapat permukaan keras di sekitar jalur tembak. Peluru yang semula menuju sasaran dapat berubah arah akibat pantulan, lalu melanjutkan perjalanan ke luar area pengamanan. Inilah yang menjadikan pengendalian lingkungan latihan sama pentingnya dengan keterampilan penembak.
Dalam kajian gerak dasar, lintasan proyektil memang dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk angin yang dapat mempercepat atau memperlambat laju peluru, serta hambatan udara yang dipengaruhi bentuk ujung proyektil.
Persamaan tersebut menjelaskan bahwa jarak tempuh tidak hanya bergantung pada kecepatan awal, tetapi juga pada percepatan atau perlambatan sepanjang lintasan. Jika dikombinasikan dengan kemungkinan rekoset, maka jalur akhir proyektil menjadi semakin kompleks dan sulit diprediksi secara sederhana.
Dalam konteks ini, Pasmar 2 tetap menunjukkan komitmen terhadap profesionalisme dengan memastikan penanganan cepat terhadap korban serta melakukan evaluasi terhadap aspek teknis latihan. Setiap kejadian menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan standar keselamatan yang sudah ada.
Latihan militer adalah bagian penting dalam menjaga kesiapan pertahanan negara, namun keselamatan masyarakat di sekitar lokasi latihan tetap menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap desain lapangan tembak, termasuk potensi rekoset, kondisi permukaan, serta prosedur pengamanan menjadi langkah penting ke depan.
Peristiwa ini bukan untuk menyudutkan, melainkan untuk memperkuat sistem. Bahwa dalam setiap latihan, bukan hanya akurasi yang diuji, tetapi juga kemampuan mengendalikan risiko yang tidak terlihat.
Pada akhirnya, profesionalisme tidak hanya diukur dari ketepatan sasaran, tetapi juga dari kemampuan memastikan bahwa setiap peluru—termasuk yang berpotensi memantul—tetap berada dalam batas aman
Penulis: Drs. H. Sunar – Gudge Archery Perpani Jatim ( Red )





