Surabaya – Liputan Warta Jatim, Ada yang tumpah di Rumah Ilalang Ngronggot Nganjuk malam itu—bukan sekadar keramaian, melainkan kerinduan yang lama disimpan, seperti petis yang matang perlahan di dasar kesabaran. *Sambang Putu* dalam lakon Besut bertema besar “Jajah Deso Milangkori” menjelma peristiwa kebudayaan yang tidak hanya hadir, tetapi juga mengingat dan merawat.
Sembilan tahun yang lalu, sebagian dari mereka masih sekadar “nama dalam daftar hadir masa depan”. Kini, mereka datang dengan wajah-wajah baru: ada yang berseragam SMP, SMA, mahasiswa, bahkan sudah berdiri sebagai pendidik—profesi yang diam-diam paling revolusioner di negeri yang sering lupa cara belajar. Dan yang paling menggetarkan: ada yang dulu masih di dalam rahim, kini sudah ikut “beraksi”—seolah ingin membuktikan bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar menunggu, ia selalu lebih dulu lahir.
Kehadiran Meimura dengan Ludruk Garingan-nya menjadi semacam jembatan antarwaktu: antara yang pernah, sedang, dan akan. Ludruk, dalam tafsir ini, bukan sekadar tontonan, tapi perangkat lunak ingatan kolektif—yang terus di-update tanpa kehilangan sistem operasinya: guyon, kritik, dan kejujuran yang kadang lebih tajam dari berita utama.
Perjumpaan itu terasa padat, bukan karena jumlah orangnya, tapi karena muatan sejarah yang ikut duduk di antara mereka. Seperti forum-forum kebudayaan masa lalu yang dulu menjadi ruang bertemunya gagasan, malam itu kembali menghadirkan denyut yang sama—bedanya, kini dengan tantangan baru: pergeseran nilai, kebingungan arah, dan budaya instan yang lebih cepat viral daripada yang benar benar Benada dalam proses dan militan.

Di tengah suasana yang semakin “meruang”—dalam arti yang sesungguhnya: meluas dan mendalam—perbincangan ditabalkan oleh suara-suara yang tidak asing dalam lanskap kebudayaan Jawa Timur: Autar Abdillah, Henry Nurcahyo, dan Rego Ilalang. Mereka tidak sekadar berbicara, tapi seperti membuka laci-laci waktu, memperlihatkan bahwa peradaban tidak pernah benar-benar lurus—ia zig-zag, kadang mundur, kadang pura-pura maju.
Istilah “Rusmini”yang dipanggil Besut kepada generasi malam itu—baik perempuan maupun laki-laki—menjadi simbol yang jenaka sekaligus serius. Jenaka karena terdengar seperti nama tetangga sebelah; serius karena di situlah masa depan dititipkan. Mereka adalah generasi yang tidak cukup hanya hadir, tapi juga harus menjawab: “Setelah ini, kita mau jadi apa—penonton, pelaku, atau sekadar penonton yang merasa pelaku?”
Dalam konteks itu, karya-karya Henry Nurcahyo hadir sebagai semacam “vitamin kebudayaan”—menguatkan daya tahan antar generasi. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan bukan benda mati yang disimpan di lemari museum, melainkan praktik hidup yang harus terus dinegosiasikan: antara tradisi dan inovasi, antara lokalitas dan globalitas, antara yang sakral dan yang viral.
Yang menarik, forum ini tidak berhenti pada nostalgia. Ia justru bergerak ke wilayah yang lebih sulit: distribusi tanggung jawab. Puluhan buku buku karya Hennry Nurcahyo—entah dimaknai sebagai benih, simpul, atau pengungkit —terbagi sebagai bentuk konkret dari pertanyaan besar: siapa melakukan apa, dan untuk siapa?
Di sinilah letak kekuatan Sambang Putu: ia bukan sekadar peristiwa temu kangen, melainkan laboratorium sosial-budaya. Ia menguji apakah persaudaraan masih punya daya rekat di tengah zaman yang gemar memecah. Ia menakar apakah seni masih bisa menjadi medium berpikir, bukan sekadar panggung swafoto.
Dan seperti khasnya Besut—jenaka tapi menusuk—acara ini seolah berbisik:
> “Kalau leluhur dulu bisa berkumpul tanpa Wi-Fi, masa kita yang sudah 5G masih gagal menyambung rasa?”
Malam itu, waktu tidak berjalan ke depan. Ia pulang. Dan di ambang pintu, masa depan sudah menunggu—dengan wajah para Rusmini yang, mau tidak mau, harus belajar menjadi leluhur berikutnya.





