Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan: Menakar Relevansi Visi Cilacap MAJU & BESAR

Cilacap, – Liputan Warta Jatim, Hampir satu dekade waktu berjalan, tepatnya menjelang satu tahun masa kepemimpinan DR. Syamsul Aulya Rachman, S.TTP, M.Si sebagai Bupati Cilacap periode 2024-2029.

 

Sebuah pertanyaan besar muncul ke ruang publik: Masihkah kompas kebijakan Sang Bupati berkiblat pada Visi dan Misi yang dulu digaungkan? Saat masa kampanye, publik seolah terhipnotis oleh narasi “Cilacap MAJU dan BESAR”. Janji akan kemandirian, kemajuan pendidikan, kesehatan, serta tata kelola pemerintahan yang bersih, laksana angin segar yang membuai harapan rakyat.

 

Visi tersebut menjanjikan kemandirian bagi masyarakat Cilacap, dengan meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat untuk mengembangkan diri sendiri.

 

Selain itu, visi tersebut juga menjanjikan kemajuan pendidikan, dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan akses pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat Cilacap. Visi tersebut juga menjanjikan kemajuan kesehatan, dengan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan akses k

Baca Juga :  Sarasehan Hari Agraria dan Tata Ruang Nasional 2025, Wamendagri Bima: RDTR Menjadi Kunci Kota Berkarakter

 

Syamsul dengan lantang menjanjikan sebuah era baru yang steril dari praktik-praktik korosif: tidak mengambil gaji, serta mengharamkan jual beli jabatan maupun proyek. Namun, politik bukanlah ruang hampa. Di balik elegansi retorika, tersimpan realitas biaya kontestasi yang tidak sedikit.

 

Publik kini mulai menyoroti kontradiksi yang muncul ke permukaan. Salah satunya adalah kebijakan efisiensi ekstrim pada Anggaran 2026. Kebijakan ini memantik reaksi keras dari tokoh masyarakat, Hadi Try Wasisto R di kediaman yang, Cilacap, Kamis, 18/12/2025.

 

Ia mempertanyakan logika efisiensi tersebut yang dinilai tidak proporsional. “Jika bicara efisiensi, mengapa program Bupati ‘Ngantor di Desa’ yang melibatkan mobilisasi puluhan pejabat tetap berjalan? Apa urgensinya….???!!!”. Kritik Hadi.

 

Bagi sebagian kalangan, program tersebut justru dianggap menciptakan jarak psikologis. Alih-alih merasa terlayani, masyarakat justru merasa sungkan dan minder menghadapi barisan pejabat yang terkadang masih menempatkan diri dengan mentalitas “Raja” ketimbang “Pelayan Rakyat”.

Baca Juga :  Ketua RW Sawangan Elok kelurahan Duren Mekar kecamatan Bojongsari kota Depok Ucap Kepada kader PSI Bojongsari kota Depok jawa Barat

 

“Jabatan politik ada batas akhirnya. Pada saatnya, siapapun akan kembali menjadi rakyat biasa. Jangan sampai ambisi menghalalkan segala cara.

 

Kini, bola panas ada di tangan DR. Syamsul Aulia Rahman. Apakah Visi “Cilacap MAJU dan BESAR” akan benar-benar menjadi manifestasi kesejahteraan rakyat, ataukah hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah sebagai janji manis yang layu sebelum berkembang”. Pungkasnya.

Bowo

Artikel yang Direkomendasikan