Jember, – Liputan Warta Jatim Sebuah peristiwa nahas yang memilukan sekaligus memicu sorotan publik terjadi di jalur pelintasan sebidang Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari, Jember, Rabu (13/5/2026).
Seorang pengendara sepeda motor yang masih berusia remaja tewas seketika setelah tersambar Kereta Api (KA) Sangkuriang yang sedang melintas cepat. Peristiwa mengerikan ini terekam kamera video amatir warga dan rekaman kejadian tersebut kini tersebar luas di berbagai media sosial.
Berdasarkan keterangan saksi mata dan rekaman video yang beredar, insiden bermula saat korban melajukan kendaraannya mendekati area perlintasan rel. Dalam cuplikan gambar tersebut, terlihat jelas korban tidak mengurangi laju kendaraannya saat hendak menyeberang. Diduga korban menganggap jalur aman karena tidak ada penghalang atau tanda penutupan jalan, sehingga ia tetap memacu kendaraannya. Padahal, Kereta Api Sangkuriang sudah berada dalam jarak dekat dan melaju kencang. Tabrakan pun tak terelakkan. Tubuh korban terpental hingga sekitar lima meter dari titik tumbukan dan jatuh tak bernyawa, sementara sepeda motor yang dikendarainya hancur ringsek tak berbentuk lagi.
“Saya melihat langsung kejadiannya dari dekat. Korbannya terpental sekitar lima meter dan langsung meninggal di lokasi. Motornya juga rusak parah, ringsek semua kena sambar kereta,” ungkap salah satu warga yang menyaksikan peristiwa tersebut.
Kecelakaan fatal ini kemudian mengangkat isu krusial terkait fasilitas keamanan di lokasi kejadian. Publik mempertanyakan mengapa palang pintu perlintasan yang terlihat ada di lokasi, namun tidak berfungsi menutup atau tidak dioperasikan saat kereta akan lewat.
Menjawab berbagai pertanyaan dan kekhawatiran masyarakat, pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember akhirnya memberikan keterangan resmi dan penjelasan terbaru mengenai kondisi di lokasi kejadian. Ditegaskan oleh pihak Dishub bahwa sarana fisik berupa palang pintu atau pintu perlintasan sesungguhnya sudah dibangun dan tersedia di lokasi tersebut. Namun, hingga saat ini fasilitas tersebut belum dapat beroperasi dan menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya karena belum ada petugas yang ditempatkan untuk mengawasi dan mengoperasikannya.
“Pintu perlintasan di lokasi tersebut sebenarnya sudah dibangun dan fasilitas fisiknya sudah ada. Namun sampai saat ini lokasi tersebut belum ada penjaganya, dikarenakan kami masih dalam proses pencarian petugas yang benar-benar sesuai dengan kompetensi dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk tugas tersebut,” jelas keterangan resmi dari pihak Dinas Perhubungan Kabupaten Jember.
Pernyataan ini menjadi penjelasan resmi atas fakta yang terlihat di lapangan, di mana fasilitas keamanan memang sudah tersedia secara fisik, namun belum bisa dimanfaatkan karena belum ada tenaga pelaksana yang ditempatkan. Proses pencarian petugas yang memiliki kompetensi yang tepat ini menjadi alasan mengapa palang pintu tersebut terbuka lebar dan tidak ada yang mengatur lalu lintas saat insiden maut itu terjadi.
Usai kejadian, warga sekitar segera berhamburan mendatangi lokasi untuk memberikan pertolongan dan menutupi jenazah korban. Tak lama kemudian, jenazah dievakuasi menggunakan ambulans dan dibawa ke kamar jenazah Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. Soebandi Jember untuk pemeriksaan medis serta proses identifikasi lebih lanjut.
Tragedi ini kini menjadi sorotan tajam sekaligus evaluasi mendasar bagi semua pihak. Keberadaan fasilitas fisik yang sudah dibangun ternyata belum cukup menjamin keselamatan, karena belum diimbangi dengan penempatan petugas yang berwenang. Masyarakat berharap proses pencarian petugas yang kompeten tersebut dapat segera diselesaikan, agar fasilitas yang sudah ada bisa berfungsi maksimal dan tragedi serupa tidak kembali terulang menelan korban jiwa
Dedik Kurniawan





