
Surabaya – Liputan Warta Jatim, Di tengah semarak pameran anggrek internasional di kawasan Asia, satu nama dari Indonesia terus hadir menjaga kehormatan negeri, dialah Rudy M. Mintarto.
Selama 15 tahun terakhir, alumnus Arsitektur Universitas Udayana Bali ini hampir tak pernah absen memenuhi undangan pameran anggrek dunia.
Rudy bukan eksportir besar. Ia juga bukan pemilik perusahaan anggrek berskala internasional. Namun lelaki itu datang membawa misi yang justru nyaris tidak dipikirkan negara, yakni menjaga agar dunia tetap mengingat bahwa Indonesia memiliki anggrek terbaik.
“Saya ingin merah putih tetap berkibar bersama negara-negara lain. Dunia juga harus tahu bahwa anggrek Indonesia masih hidup,” ujar Rudy saat mempersiapkan materi pameran di rumahnya kawasan Gubeng Kertajaya 7D/9, Surabaya.
Pada 29 Mei 2026, Rudy kembali bertolak menuju Genting Highland, Malaysia, untuk mengikuti pameran anggrek internasional yang berlangsung pada 3–10 Juni 2026 di Resort World Awana.
Dalam area display seluas 32 meter persegi, Rudy tidak sekadar menghadirkan bunga-bunga eksotis. Ia juga membawa identitas budaya Indonesia melalui visual Jaranan, Tari Remo, Gandrung Banyuwangi, hingga latar candi yang dipadukan dengan pesona anggrek Nusantara.

Sebuah diplomasi budaya yang berjalan hampir tanpa dukungan pemerintah.
Ironisnya, ketika individu seperti Rudy berjuang menjaga reputasi Indonesia di mata dunia, negara belum menempatkan anggrek sebagai komoditas strategis penghasil devisa.
Padahal Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan spesies anggrek terbesar di dunia.
Potensi Besar Belum Digarap
Data Badan Pusat Statistik tahun 2019 mencatat ekspor anggrek Indonesia hanya sekitar 38 ribu kilogram dengan nilai sekitar Rp 3,2 miliar. Nilai itu sangat kecil dibanding Thailand yang mampu menghasilkan ratusan juta dolar AS setiap tahun dari ekspor anggrek.
Taiwan bahkan berhasil menjadikan anggrek Phalaenopsis sebagai industri berbasis teknologi dan riset dengan nilai ekspor lebih dari 200 juta dolar AS per tahun.
Indonesia tertinggal jauh.
“Masalahnya bukan kualitas anggrek kita. Komunitas anggrek dunia mengakui kualitas Indonesia sangat bagus. Tapi kita kalah dalam keberpihakan kebijakan pemerintah,” kata Rudy.
Selama ini perhatian pemerintah masih terkonsentrasi pada komoditas pangan seperti padi, jagung, dan hortikultura konsumsi. Anggrek masih dianggap sekadar tanaman hias dan belum dipandang sebagai sumber devisa masa depan.
Akibatnya, petani anggrek harus menghadapi sendiri berbagai persoalan mulai dari aturan ekspor yang rumit, proses karantina yang panjang, hingga regulasi CITES yang sering membingungkan.
Persoalan terbesar terletak pada sistem regulasi. Banyak jenis anggrek Indonesia masuk Appendix I dan II CITES karena berasal dari spesies alam yang dilindungi. Namun implementasi di Indonesia, aparat sering tidak bisa membedakan secara tegas antara anggrek liar dan hasil kultur jaringan.
Akibatnya, petani yang membudidayakan anggrek secara legal tetap harus melewati prosedur ekspor yang panjang dan melelahkan.
“Petani akhirnya takut ekspor. Padahal itu hasil budidaya, bukan mengambil dari hutan,” ujar Rudy.
Berbeda dengan Indonesia, negara-negara Asia lain justru memberi dukungan serius terhadap industri anggrek.
Thailand aktif membantu riset, sertifikasi kebun, hingga membuka akses pasar internasional. Industri anggrek dibangun terintegrasi dari petani kecil, koperasi, pusat trading, hingga fasilitas packing ekspor.
Taiwan melangkah lebih jauh dengan teknologi greenhouse otomatis, kultur jaringan modern, dan diplomasi perdagangan yang agresif.
Hasilnya, Taiwan mampu mengekspor anggrek lengkap dengan media tanam ke Amerika Serikat. Sementara Indonesia masih diwajibkan mengirim anggrek tanpa media tanam sehingga biaya logistik lebih mahal dan risiko kerusakan tanaman begitu tinggi.
Singapura memang bukan produsen utama, tetapi berhasil menjadi pusat perdagangan anggrek premium Asia karena regulasinya cepat dan transparan.
Indonesia justru tampak seperti negara kaya yang belum mampu mengelola kekayaannya sendiri.
Menanti Keberanian Politik
Menurut Rudy, membangun industri anggrek nasional sebenarnya tidak membutuhkan proyek besar. Yang diperlukan adalah keberanian pemerintah menyederhanakan regulasi dan membuka akses pasar.
Pemerintah perlu membedakan secara jelas antara anggrek liar dan anggrek hasil kultur jaringan agar petani budidaya tidak terus dibebani kerumitan birokrasi.
Selain itu, diplomasi karantina dengan negara tujuan ekspor juga harus diperkuat agar Indonesia memperoleh perlakuan setara dengan Taiwan.
“Kalau regulasi dipermudah, petani anggrek Indonesia bisa berkembang sangat cepat,” tandas Rudy.
Dukungan lain yang dibutuhkan ialah riset varietas unggul, pembangunan fasilitas packing dan cold chain, serta pembentukan koperasi atau off-taker yang menjamin pasar ekspor petani kecil.
Yang juga mendesak adalah branding nasional.
Dunia mengenal “Thai Orchid”, tetapi belum ada gaung kuat mengenai “Indonesia Orchid”, padahal Indonesia memiliki ribuan spesies anggrek eksotis yang tidak dimiliki negara lain.
Perjuangan Sunyi
Di tengah minimnya perhatian pemerintah, Rudy tetap melangkah membawa nama Indonesia ke berbagai negara. Baginya, pameran anggrek bukan sekadar soal bunga.
Di sana ada pertaruhan budaya, reputasi bangsa, dan peluang ekonomi yang selama ini belum dibaca serius oleh negara.
Karena itu Rudy terus datang meski harus berjuang sendirian. Sebab jika komunitas anggrek berhenti menjaga nyala itu, Indonesia perlahan hanya akan menjadi penonton di tengah kekayaan hayatinya sendiri.
Dan, ketika negara lain menikmati devisa dari anggrek, Indonesia masih sibuk mencari alasan mengapa peluang besar itu terus terlewatkan? Sayang sekali.
(RED)





