SURABAYA – Liputan Warta Jatim Kehangatan dan kedamaian menyelimuti Jalan Karangrejo Timur 2 Nomor 11 Surabaya pada Sabtu malam, 6 Juni 2026. Ratusan warga Shiddiqiyyah berkumpul bersama dalam suasana yang penuh keberkahan untuk memperingati Haul ke-8 Al-Maghfurlah Kholifah Shiddiqiyyah Bapak Abdul Wahab Dasuqi. Acara ini bukan hanya menjadi sarana untuk mengirimkan doa bagi almarhum, melainkan juga momen berharga untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkokoh persaudaraan sesama anggota.
Mewakili keluarga besar, Mahruf Nuruddin selaku Walitalkin dan putra dari almarhum, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran dan perhatian seluruh warga Shiddiqiyyah. Ia pun mengisahkan sosok ayahandanya yang dikenal sangat tegas dan berwibawa.
“Dahulu, beliau mendidik kami para putra-putrinya dengan ketegasan yang tinggi. Demikian pula saat membimbing warga Shiddiqiyyah, kedisiplinan adalah prinsip yang selalu diterapkan. Semua itu bertujuan mulia, yaitu membentuk generasi yang tangguh, berkarakter tegas, dan memiliki kedisiplinan yang kuat dalam menjalani kehidupan beragama maupun bermasyarakat,” ungkap Mahruf dengan nada penuh hormat.

Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa sosok almarhum adalah teladan yang sangat tinggi nilainya. “Kami para anak-anaknya menyadari masih sangat jauh untuk dapat mengimbangi atau menempuh jejak langkah beliau. Begitu pula kakak kami, Siti Mujaidah, yang kini meneruskan tonggak kepemimpinan, juga dikenal memiliki ketegasan yang sama dalam membina, membimbing, dan mengambil sikap demi kemajuan organisasi,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Al Hallaj Muchyiddin, yang juga merupakan putra almarhum, menyampaikan Taqirotul Hazanah. Ia mengajak seluruh hadirin untuk menyadari makna ganda dari pertemuan malam ini, yaitu mensyukuri kelahiran Sang Mursyid sekaligus mengenang kepergian beliau pada haul ke-8.
“Di malam yang penuh berkah ini, saat kita bersama-sama mengirimkan doa, marilah kita berinsyaf dan mempersiapkan diri. Kosongkanlah jiwa dan hati kita agar menjadi wadah yang bersih. Fokuskan dan pusatkan perhatian kita ke dalam dua arah, serta penuh konsentrasi dalam melantunkan setiap ayat-ayat Kautsaran,” pesannya. Ia juga mengingatkan satu janji agung Allah SWT, bahwa barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengucapkan dan meyakini kalimat Laa ilaaha illallah, maka kelak ia pasti akan masuk ke dalam surga-Nya.
Sebelum memimpin doa Kautsaran, Eko Sholikul Huda turut berbagi kenangan manis semasa masih mendampingi almarhum Bapak Abdul Wahab Dasuqi dalam sebuah perjalanan menuju Jombang. Di momen itulah, beliau sempat mewariskan kunci keberhasilan dalam kehidupan berorganisasi.
“Beliau pernah bersabda, kunci utama dan pondasi terkuat dalam hidup berorganisasi hanyalah satu, yaitu Samina wa Atha’na – mendengar dan menaati, serta sepenuh hati mengikuti setiap dawuh dan petunjuk Sang Guru. Sebuah pesan yang singkat, namun maknanya begitu dalam dan jelas menjadi pedoman kita semua,” kenang Eko.
Peringatan haul ini menjadi bukti nyata bahwa rasa keguyuban, kerukunan, serta semangat persatuan Ya Tullohi Allal Jama’ah di lingkungan Shiddiqiyyah senantiasa terpelihara dengan sangat baik. Terciptalah suasana yang nyaman secara fisik, namun terasa jauh lebih hangat dan menyejukkan di dalam hati, menggambarkan nuansa kehidupan sosial yang penuh persaudaraan, kasih sayang, dan kebersamaan yang tulus.
Red/sudarto






