Bagaimana Membaca Arah Zaman di Era Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI)?

Rokimdakas : Penulis, Pencerita dan Penggiat budaya

Esai Pendidikan
Oleh: Rokimdakas *

Membaca Arah Zaman, Menyiapkan Kebutuhan Peradaban

“Yang dibutuhkan bukan sekadar memilih jurusan yang tepat, melainkan memahami ke mana arah peradaban bergerak.”

Ada satu keyakinan yang selama puluhan tahun tertanam kuat di masyarakat:  pilihlah jurusan yang prospeknya bagus, maka masa depan akan aman. Karena itu, setiap beberapa tahun selalu muncul “jurusan primadona”.

Pernah ada masa ketika fakultas ekonomi menjadi rebutan. Kemudian bergeser ke teknik informatika, manajemen, komunikasi, desain, hingga ilmu komputer. Masyarakat berbondong-bondong mengikuti arus dengan harapan sederhana, lulus kuliah, memperoleh pekerjaan yang layak.

Namun sejarah menunjukkan bahwa harapan itu tidak selalu berjalan lurus. Banyak lulusan justru menghadapi kenyataan yang berbeda.

Gelar akademik tidak lagi otomatis menjadi tiket menuju pekerjaan mapan. Dunia berubah terlalu cepat, sementara sistem pendidikan bergerak jauh lebih lambat.

Persoalannya bukan semata-mata salah memilih jurusan. Yang berubah sesungguhnya adalah wajah peradaban itu sendiri.
Peradaban manusia selalu bergerak mengikuti penemuan baru.

Revolusi pertanian melahirkan kebutuhan petani dan ahli irigasi. Revolusi industri melahirkan insinyur dan pekerja pabrik. Revolusi informasi menciptakan programmer dan analis data. Kini dunia memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), robotika, otomatisasi, bioteknologi, dan ekonomi digital.

Dalam setiap lompatan peradaban itu, selalu ada profesi yang lahir dan profesi yang kehilangan relevansi.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya mengajarkan apa yang dibutuhkan hari ini. Pendidikan harus mampu membaca kebutuhan lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan.

China Membaca Arah Perubahan

Langkah Pemerintah China beberapa waktu terakhir menunjukkan bagaimana sebuah negara mencoba menyesuaikan pendidikan dengan perubahan peradaban.

Sepanjang 2021–2025, pemerintah China merombak sistem pendidikan tingginya secara besar-besaran. Sebanyak 12.200 program studi dihentikan atau ditutup, sementara sekitar 10.200 program studi baru dibuka. Artinya, lebih dari tiga puluh persen program studi di perguruan tinggi mengalami perubahan.

Jurusan-jurusan yang dianggap tidak lagi mampu menyediakan peluang kerja mulai dikurangi, terutama bidang seni, humaniora, bahasa asing, hingga manajemen.

Sebaliknya, berbagai universitas membuka program baru yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, robotika, teknologi masa depan, hingga kecerdasan yang terwujud (embodied intelligence). Yaitu perpaduan AI dengan robot atau perangkat fisik yang mampu berinteraksi langsung dengan lingkungan.

Kebijakan itu bukan tanpa alasan. Tingkat pengangguran kaum muda di China masih berada di atas 16 persen. Tahun ini saja sekitar 12,7 juta mahasiswa memasuki pasar kerja.

Pemerintah menyadari bahwa apabila pendidikan tetap menghasilkan lulusan dengan kompetensi lama, sementara industri bergerak menuju teknologi baru, maka jurang antara lulusan dan kebutuhan pasar akan semakin lebar.

Bahkan pemerintah China menargetkan melatih satu juta anak muda dalam bidang AI, manufaktur canggih, kendaraan energi baru, dan berbagai sektor ekonomi masa depan.

Baca Juga :  Wamendagri Bima Arya Tinjau Penanganan Banjir di Solok, Sangat Tekankan Untuk Distribusi Logistik dan Percepatan Pemulihan

Ini menunjukkan bahwa negara mulai memandang pendidikan bukan sekadar proses memperoleh ijazah, melainkan instrumen strategis untuk menyiapkan peradaban berikutnya.

AI Mengubah Peta Profesi

Fenomena tersebut sebenarnya bukan hanya terjadi di China. Di berbagai negara, AI mulai mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang bersifat rutin, administratif, dan berbasis pola.

Seorang desainer yang dahulu membutuhkan berhari-hari membuat rendering produk kini dapat dibantu AI hanya dalam hitungan menit.

Penerjemahan bahasa asing yang dahulu menjadi profesi tersendiri kini semakin mudah dilakukan mesin.

Penyusunan laporan sederhana, pengolahan data, bahkan penulisan naskah awal berita juga mulai dapat dikerjakan oleh sistem AI.

Yang berubah bukan semata-mata teknologi, melainkan struktur kebutuhan masyarakat. Karena itu, pendidikan yang hanya menghasilkan kemampuan teknis tanpa kemampuan berpikir kritis akan semakin mudah tergeser.

Gelar Tidak Lagi Menjamin

Survei yang dilakukan ZipRecruiter terhadap 1.500 lulusan universitas memberikan gambaran yang menarik. Jurusan yang paling banyak disesali lulusannya justru bukan jurusan yang dianggap sulit, melainkan beberapa bidang yang dahulu sangat populer.

Jurnalisme menempati posisi pertama sebagai jurusan yang paling banyak disesali, mencapai 87 persen. Disusul sosiologi, seni, komunikasi, pendidikan, pemasaran, ilmu politik, biologi, hingga sastra Inggris

Mengapa?
Bukan karena ilmu tersebut tidak penting. Sebagaimana diungkapkan ekonom utama ZipRecruiter, Sinem Buber, ketika masih kuliah banyak mahasiswa memang mencintai bidang yang dipilih. Namun setelah memasuki dunia kerja, realitas ekonomi berbicara lain.

Gaji, peluang kerja, dan keberlanjutan karier menjadi pertimbangan yang jauh lebih nyata dibanding idealisme ketika pertama kali memilih jurusan.

Ini bukan berarti ilmu-ilmu sosial, seni, atau jurnalisme kehilangan makna. Sebaliknya, masyarakat tetap membutuhkan wartawan, guru, sosiolog, seniman, dan penulis.

Yang berubah adalah cara profesi itu dijalankan.

Seorang wartawan masa kini tidak cukup hanya pandai menulis. Ia harus mampu membaca data, memverifikasi informasi digital, memahami algoritma media sosial, memanfaatkan AI sebagai asisten riset, mengolah multimedia, dan membangun kepercayaan publik di tengah banjir informasi.

Profesi tetap ada, tetapi kompetensinya telah berubah.

Mengapa Pendidikan Selalu Terlambat?

Perubahan zaman berlangsung secara eksponensial – pelipatan berulang-ulang, sedangkan perubahan kurikulum berlangsung secara administratif.

Teknologi dapat berubah dalam hitungan bulan. Sementara penyusunan kurikulum baru sering memerlukan waktu bertahun-tahun.

Akibatnya, ketika mahasiswa lulus, sebagian ilmu yang dipelajari sudah mulai tertinggal.

Inilah yang disebut para futurolog sebagai future lag—kesenjangan antara laju perubahan dunia dengan kemampuan lembaga pendidikan menyesuaikan diri.

Apakah mengikuti tren selalu benar? Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam.

Sebagian pakar pendidikan di China justru mengingatkan bahwa menutup jurusan lama dan membuka jurusan baru belum tentu menyelesaikan masalah.

Teknologi juga memiliki siklus. Hari ini AI menjadi primadona. Sepuluh tahun lagi mungkin muncul teknologi baru yang sama sekali berbeda.

Baca Juga :  Peringatan Isra Mikraj di Lapas Banyuwangi, Warga Binaan Diajak Perkuat Iman dan Jaga Kerukunan

Apabila pendidikan hanya mengejar tren pasar kerja, universitas akan terus berlari tanpa pernah benar-benar sampai.

Karena itu, beberapa ahli menyarankan agar mahasiswa diberi kebebasan membangun kombinasi kompetensinya sendiri.

Pandangan ini menarik. Yang dibutuhkan sebenarnya bukan spesialisasi yang terlalu sempit, melainkan fondasi ilmu yang kuat dipadukan dengan kemampuan belajar sepanjang hayat.

Membaca Arah Peradaban

Lalu bagaimana seharusnya kita membaca masa depan? Bukan dengan meramal.
Tetapi dengan mengamati kebutuhan manusia yang paling mendasar.

Teknologi boleh berubah.
Peralatan boleh berganti.
Tetapi manusia akan tetap membutuhkan pangan, kesehatan, energi, pendidikan, keamanan, komunikasi, lingkungan hidup yang sehat serta kebudayaan.

Profesi boleh berganti nama.
Namun kebutuhan manusia tidak pernah benar-benar berubah.

Maka membaca arah zaman berarti membaca ke mana kebutuhan manusia bergerak.
Bukan sekadar melihat jurusan apa yang sedang populer.

Pendidikan yang Sesungguhnya

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Pendidikan bukanlah pabrik pencetak pekerja. Pendidikan adalah tempat membentuk manusia yang mampu belajar, berpikir, beradaptasi, dan menciptakan solusi.

Di era AI, kemampuan yang paling mahal justru bukan menghafal informasi, melainkan berpikir kritis, berimajinasi, berkomunikasi, bekerja sama, memiliki integritas, dan mampu terus belajar.

AI mungkin mampu menulis.
Tetapi manusialah yang menentukan makna.

AI mampu menghitung.
Tetapi manusialah yang menentukan nilai.

AI dapat menghasilkan jawaban. Tetapi manusialah yang harus menentukan pertanyaan yang benar dan cerdas.

Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan masa depan bukan lagi seberapa cepat lulusannya memperoleh pekerjaan pertama. Melainkan seberapa siap mereka menghadapi pekerjaan-pekerjaan yang bahkan hari ini mungkin belum diciptakan.

Pada akhirnya, yang perlu disiapkan bukan hanya lulusan untuk pasar kerja hari ini. Yang jauh lebih penting adalah menyiapkan manusia yang mampu hidup dan berkarya dalam peradaban yang terus berubah.

Sebab zaman tidak pernah menunggu mereka yang hanya mengejar tren. Zaman selalu memberi ruang kepada mereka yang mampu membaca arahnya.

Pendidikan jangan menjadi pabrik pembuat kunci untuk pintu-pintu yang sudah dibongkar zaman.

Kita boleh terus membangun gedung sekolah yang megah. Kita boleh membuka ratusan jurusan baru. Kita boleh mengejar peringkat universitas dunia.

Namun satu pertanyaan terus menunggu jawaban, apakah kita sedang mendidik generasi untuk menghadapi masa depan atau sedang mempersiapkan mereka untuk dunia yang sudah tidak ada lagi ketika mereka lulus?

 

*) Jurnalis & Penulis
Anggota Dewan Kebudayaan Surabaya 2026-2029

Artikel yang Direkomendasikan