CILACAP, – Liputan Warta Jatim, Pemerintah Desa Sidayu, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap, kembali menyelenggarakan tradisi adat Memetri Bumi atau Syukuran Bumi yang ke-33 pada Kamis (30/04/2026). Acara yang berlangsung sederhana namun sarat makna ini menjadi wujud rasa syukur warga, yang mayoritas berprofesi sebagai petani, atas hasil bumi yang melimpah.
Kepala Desa Sidayu, Bapak Abdul Nasim Al-Najif, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan untuk melestarikan adat budaya Jawa sekaligus mempererat tali silaturahmi antar warga.
Perayaan dimulai sejak Rabu malam dengan rangkaian kegiatan yang menyentuh sisi religius dan tradisi: Ziarah Kubur: Penghormatan kepada para leluhur desa. Khoul Masal & Doa Bersama: Dilaksanakan setelah waktu Maghrib untuk memohon keberkahan. Sidayu Bersholawat: Menampilkan 12 grup rebana desa dalam satu panggung untuk memperkuat sisi syiar Islam.
Dilaksanakan pada Kamis pagi sebagai bagian dari prosesi adat. Warga berkumpul membawa tenong berisi nasi dan lauk-pauk untuk makan bersama (selamatan).
Sebagai puncak acara, pertunjukan Wayang Kulit akan digelar pada Kamis malam sebagai hiburan rakyat sekaligus pelestarian seni tradisional.
Dalam wawancaranya, Kades Abdul Nasim menekankan pentingnya menjaga identitas bangsa melalui budaya. Ia mengutip pesan Presiden Soekarno tentang pentingnya beragama tanpa meninggalkan budaya asli Indonesia.

“Aji ning desa atau negara itu dari budayanya. Sesuai filosofi Sunan Kalijaga, kita melakukan kolaborasi antara syariat Islam dan budaya lokal,” ujar Abdul Nasim.
Ia juga menjabarkan akronim SIDAYU yang menjadi visi kehidupan warganya:
1. S (Sejuk): Menciptakan suasana lingkungan yang asri.
2. I (Indah): Menjaga estetika desa.
3. D (Damai): Hidup rukun berdampingan.
4. A (Aman): Menjamin ketenteraman warga.
5. YU (Yaitu Utamanya): Bahwa keempat hal tersebut adalah landasan utama kehidupan di Desa Sidayu.
Meski situasi nasional tengah menjadi pertimbangan pemerintah desa, Memetri Bumi tahun 2026 ini tetap dilaksanakan dengan penuh rasa syukur. Jika biasanya terdapat Festival Budaya Janggola, tahun ini fokus diarahkan pada inti selamatan dan doa bersama.
“Harapan kami, warga Sidayu yang mayoritas kaum tani bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dan mendapatkan rezeki yang berkah,” pungkasnya.
Bowo





